Srinivas: Iba yang Tak Beralamat
Ternyata bukan rindu. Yang tersisa di dadaku namanya iba — dan iba pun butuh alamat untuk sampai. Aku membenci ini. Bukan membencimu. Membenci hal yang terus berputar di dadaku, yang tak pernah kuminta datang, yang selalu menemukan jalan pulang ke kepala meski semua pintu sudah kukunci. Tahun ini aku tidak merindukanmu. Aku tegaskan itu bukan untukmu, tapi untuk diriku, karena aku terlalu sering disuruh memanggil sesuatu dengan nama yang salah. Ini bukan rindu. Yang aku rasakan namanya iba. Iba pada laki-laki yang menyimpan begitu banyak di dalam, lalu memilih diam ketika satu kalimat saja sudah cukup. Iba pada kita yang sempat ada, lalu kau simpan di kotak dan kau buang ke laut, seolah laut bisa menelan sesuatu yang tak pernah berani kau sebut namanya. Iba pada sebuah kemungkinan yang kau sentuh di bulan Maret, lalu kautinggalkan di ambang pintu seperti sepatu basah. Dan di situlah letak siksanya. Marah butuh alamat yang jelas. Iba pun begitu. Tapi kamu tak pernah tinggal cukup lama ...