Kamar yang Terlalu Nyaman
Photo owned by Project Multatuli Gue nulis ini dari kamar. Lampunya nyala. Kerannya ngalir. Wifi -nya lancar. Di negeri ini, kalimat barusan sudah kedengaran seperti pamer. Di layar, Padang tenggelam. Air turun dari bukit membawa rumah, sajadah, buku tulis anak sekolah. Gue scroll. Jempol gue kering. Mereka basah sampai ke tulang. Di Kalimantan, orang-orang menghirup asap dari hutan yang dibakar demi kebun orang kaya yang tinggal jauh dari asapnya. Di NTT, tanah sudah berhenti bergoyang, tapi perut belum. Ada yang masih menunggu makan sementara di kota, nasi dibagikan di depan kamera. Gizi diukur dari jumlah spanduk. Lauknya foto. Bali mulai kehabisan bensin. Gue belum. Belum. Kata itu sekarang gue pegang kayak jimat. Kursi-kursi menteri dikocok lagi, seperti kartu remi jam dua pagi. Kartunya ganti, tangannya sama. Gunung dikeruk, laut berkarat, dan seseorang di ruangan dingin bilang ini demi masa depan . Masa depan siapa, bangsat? Masa depan anak lo, cucu lo, rekening lo? Karena masa...